Sabtu, 30 Maret 2013

Faktor Genetis Mempengaruhi Kecanduan Merokok



Beberapa orang mungkin dapat melepaskan diri dari kecanduan nikotin rokok dengan mudah, tetapi orang lain mungkin dapat mengalami kesulitan dan cenderung menjadi perokok berat. Risiko kecanduan terhadap nikotin berbeda-beda pada masing-masing orang, dipengaruhi oleh faktor genetisnya.

Menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Psychiatry, seseorang yang mulai merokok di usia remaja, cenderung menjadi perokok berat dan kebiasaan tersebut akan terus berlanjut sepanjang hidupnya. Ternyata, kecanduan nikotin ini berbeda pada orang yang satu dengan yang lainnya, tergantung pada gen-nya.

Peneliti dari Duke University menemukan bahwa meskipun gen tidak mungkin membuat seseorang lebih cenderung untuk mencoba rokok, tetapi gen mungkin memainkan peran tentang bagaimana seseorang menjadi kecanduan terhadap nikotin. Penemuan ini menyoroti pentingnya menjauhkan rokok dari kehidupan anak di usia remaja.

Penelitian tersebut dilakukan dengan mengamati 1.037 pria dan wanita yang merupakan bagian dari Dunedin Multidisciplinary Health and Development Study di New Zealand. Peneliti telah mengikuti peserta sejak lahir sampai usia 38 tahun untuk mempelajari perilaku, kesehatan, dan gaya hidup.

Tim peneliti membuat sebuah 'skor risiko genetik' dengan mengamati penanda gen yang dianggap terkait dengan merokok. Berdasarkan skor risiko genetik tersebut, peneliti dapat memprediksi siapa saja diantara peserta studi yang lebih mungkin kecanduan nikotin.

Dari keseluruhan peserta studi, sebanyak 880 orang telah mencoba untuk merokok. Skor risiko genetik tidak bisa memprediksi siapa saja yang akan mencoba merokok, namun para peneliti menemukan bahwa seseorang dengan skor risiko genetik yang tinggi, 24 persen lebih mungkin menjadi perokok harian pada usia 15 tahun dan 43 persen lebih mungkin menjadi perokok harian di usia 18 tahun.

Sedangkan pada orang dewasa dengan skor risiko genetik yang tinggi, 27 persen lebih mungkin mempertahankan kebiasaan merokoknya dan 22 persen lebih mungkin mengalami kegagalan dalam upayanya berhenti merokok.

"Bagaimanapun, hasil penelitian menunjukkan bahwa seseorang dengan risiko genetik yang tinggi terhadap kebiasaan merokok, tetap dapat mengembangkan kecanduan rokok meski dirinya mulai merokok ketika telah dewasa," kata Daniel Belsky, pemimpin penelitian dalam sebuah pernyataan yang ditulis Everyday Health, Kamis (28/3/2013).

Akan tetapi, orang dengan risiko genetis tinggi dan telah memulai kebiasaan merokok sejak remaja, akan lebih cenderung menjadi perokok berat di kemudian hari. Hal ini disebabkan karena risiko genetik tersebut akan lebih ampuh di kelompok usia remaja.

Sehingga, penting bagi orangtua untuk menjauhkan rokok dari anak-anaknya yang mulai menginjak remaja. Anda mungkin tidak dapat mengawasinya setiap saat selama 24 jam, tetapi yang perlu Anda lakukan adalah dengan memberikan perhatian dan pengarahan pada anak.

Anak yang kurang perhatian dari orangtua, cenderung mencari kesenangannya sendiri dan lebih mungkin mencoba untuk merokok. Bagaimanapun juga, risiko genetik terhadap rokok tersebut tidak akan menyebabkan kecanduan jika Anda tidak pernah memulai merokok.

Sumber : detik.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar